MNCC_Bulukumba, 25 Mei 2025 — Lomba bercerita atau bertutur tingkat SD/MI se-Kabupaten Bulukumba tahun 2025 yang seharusnya menjadi ajang apresiasi terhadap kreativitas anak-anak, justru memicu polemik.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Nominal Hadiah Lomba Bertutur di Bulukumba Diduga Menyimpang, Pemerhati Literasi Berencana Membuat Pengaduan ke Provinsi

Nominal Hadiah uang yang dijanjikan para juara diduga tidak sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) yang telah ditetapkan oleh panitia pelaksana.

Kejanggalan ini mulai ramai diperbincangkan setelah salah satu juri lomba di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, Puguh Herumawan alias Kak Heru’, membagikan unggahan dokumentasi penyerahan hadiah lomba dari berbagai daerah melalui akun Facebook pribadinya, @puguh herumawan.

Dari unggahan tersebut, tampak jelas bahwa hadiah di Kabupaten Bulukumba jauh lebih rendah dibanding kabupaten lain.

Berdasarkan dokumen juknis yang diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bulukumba, hadiah untuk juara 1 semestinya sebesar Rp2.500.000, juara 2 Rp2.250.000, dan juara 3 Rp2.000.000. Untuk kategori juara harapan, tercantum angka Rp1.500.000, Rp1.200.000, dan Rp1.000.000.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan ketidaksesuaian. Juara 1 hanya menerima Rp2.000.000 dan juara 2 menerima Rp1.750.000. Selisih ratusan ribu rupiah ini menjadi sorotan para pemerhati literasi dan publik luas.

“Kami apresiasi kegiatan ini sebagai bentuk dorongan literasi sejak dini. Tapi ketika penyelenggara sendiri tidak konsisten dengan aturan yang mereka buat, tentu ini jadi masalah serius,” kata Syamsir, salah satu pemerhati literasi Bulukumba, saat dimintai komentar, Minggu (25/5).

Ironisnya lagi, meski lomba telah berakhir sejak Kamis (22/5), uang hadiah yang dijanjikan belum juga sampai kepada para juara. Penyaluran tersebut disebut-sebut masih “dalam proses”, tanpa kejelasan waktu.

Situasi ini makin kontras jika dibandingkan dengan daerah tetangga. Di Kabupaten Bantaeng, misalnya, hadiah lomba bertutur tahun ini mencapai Rp5 juta untuk juara 1 dan Rp4 juta untuk juara 2. Hal ini mempertegas disparitas dan memperbesar pertanyaan publik mengenai prioritas dan transparansi anggaran di Bulukumba.

Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, (Minggu/25/05), Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bulukumba, Emil Yusri, tidak memberikan penjelasan mendetail. Ia hanya menyarankan agar media langsung bertanya ke kepala bidang di kantornya.

“Berproses yang begini, Ke kantorki kalau mau konfirmasi langsung ke Kabid perpustakaan besok pagi,” tulisnya singkat dalam pesannya.

Desakan pun datang dari berbagai pihak agar Dinas Perpustakaan Bulukumba segera memberikan klarifikasi terbuka dan memastikan bahwa hak para peserta terpenuhi sebagaimana mestinya.

Sejumlah kalangan dan pemerhati literasi di Bulukumba rencananya akan mengadukan hal ini ke dinas perpustakaan dan kearsipan provinsi Sulawesi selatan yang mengeluarkan pedoman tertulis tentang juknis kegiatan lomba bertutur tingkat kabupaten ini, guna memperjelas besaran jumlah yang seharusnya diterapkan penyelenggara untuk para juara. (*)

Reporter: Daerah