Scroll Untuk Lanjut Membaca
Lorong 12 Tamalanrea Indah, Hujan, dan Janji yang Tak Kunjung Terpenuhi

MAKASSAR, MNCC — Di tengah hiruk-pikuk Kota Makassar, ada lorong kecil di Kelurahan Tamalanrea Indah yang menyimpan kisah pilu warga yang terus berharap. Lorong 12, Jalan Politeknik, menjadi saksi bisu bagaimana genangan air perlahan mencuri kenyamanan, bahkan harapan, dari kehidupan para penghuninya.

Setiap hujan turun, lorong ini seakan berubah menjadi sungai yang tak mengenal tujuan. Tukimin, seorang pria sederhana yang tinggal di pondokan kecil di lorong ini, menghela napas panjang saat menceritakan kisahnya. “Air selalu menggenang di depan rumah saya, bahkan hanya dengan hujan sedang. Tidak ada drainase, tidak ada saluran air,” ujarnya dengan nada pasrah, Kamis (09/01).

Tukimin mengenang bagaimana beberapa kali petugas dari Dinas PU datang, membawa meteran dan catatan, mengukur lorong ini dari ujung ke ujung. Namun, seperti kisah yang sering berulang, tindakan itu tidak pernah berbuah hasil nyata. “Sudah banyak kali diukur, tapi tidak pernah ada yang dikerjakan,” tambahnya dengan getir.

Masjid dan Genangan

Lorong 12 bukan sekadar jalan kecil menuju rumah-rumah warga, tetapi juga jalur yang sering dilalui jamaah Masjid Ali Hizam. Namun, pemandangan yang kini tersaji adalah genangan air yang meluber hingga ke batu paving blok. Dg. Arsyad, salah seorang warga, berbicara dengan nada datar, seolah sudah terlalu sering kecewa.

“Dulu air di sini lancar mengalir. Tapi sejak ada bangunan yang menutupi aliran, sekarang semuanya macet. Jamaah masjid pun sudah terbiasa melangkah di atas genangan air,” katanya. Genangan ini bukan hanya soal ketidaknyamanan, tetapi juga simbol dari keterabaian.

Tujuh Tahun Menunggu

Sudah tujuh tahun lamanya, warga Lorong 12 hidup berdampingan dengan genangan. Harapan sempat tumbuh dua tahun lalu, ketika mantan Ketua DPRD Kota Makassar, Rudianto Lallo, datang meninjau lokasi. Rida, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di lorong itu, mengingat peristiwa itu dengan jelas.

“Pak Rudianto datang langsung ke sini. Beliau bahkan menelpon Dinas PU saat itu juga. Tahun lalu, gang sepanjang 300 meter akhirnya dikerjakan. Tapi, sayangnya, aliran air di gang 12 ini tidak disentuh sama sekali,” katanya.

Kini, ketika musim hujan tiba, air semakin tinggi, dan drainase buruk di gang itu menjadi alasan utama mengapa genangan tak kunjung surut. Air yang seharusnya mengalir menuju BTN Asal Mula, Jalan Perintis Kemerdekaan 7, justru terjebak di sini, di tengah harapan warga yang terus menggantung.

Saluran Air, Sebuah Kebutuhan Mendesak

Lorong kecil ini, hanya sepanjang 10 hingga 20 meter, seolah menjadi panggung bagi warga untuk terus menyuarakan harapan mereka. John, salah seorang penghuni, mengungkapkan bahwa Dinas PU sebenarnya sudah memiliki rencana membuat saluran air di bawah jalanan ini. Namun, rencana itu hingga kini belum juga terealisasi.

“Tahun ini, kami benar-benar berharap dinas PU segera mewujudkan saluran air di lorong ini. Tidak ada yang kami minta lebih, hanya agar kami bisa hidup tanpa harus terus-menerus khawatir dengan banjir,” ujarnya penuh harap.

Di ujung lorong yang kerap basah, cerita ini terus bergulir. Genangan air bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga kisah manusia tentang kesabaran, kekecewaan, dan harapan yang belum padam. Lorong 12 menunggu, menunggu saluran kecil yang bisa membawa mereka menuju kehidupan yang lebih layak. (red)*

Reporter: admin